Jumat, 16 Juli 2010

mendewasa part 3

Baru saja memenangkan kawan yang terpuruk karena nilainya. Lagi-lagi masalah nilai seperti di kisah 1 dan kisah 2.



Saatnya mengingat kembali apa yang sering saya katakan pada diri saya sendiri ketika saya gagal "Kamu cuma belajar 100 halaman, maka pengetahuanmu mungkin tidak akan lebih dari 100 halaman, malah bisa kurang karena pengaruh lupa, jadi dengan 100 halaman itu kamu akan menghadapi ujian, jadi hasilnya pun akan tidak jauh2 dari 100 halaman, keculai kamuj sangat tidak beruntung. Kalau kamu belajarnya 100 halaman, nggak mungkin akan dapet nilai sejumlah 101 halaman." intinya seberapa kamu menanam segitula yang kamu petik. Ini hanya hukum karma phala yang kata-katanya dimodifikasi.

Selasa, 06 Juli 2010

mendewasa part 2

ini sambungan
silahkan dibaca episode sebelumnya di kisah 1

***
Tekanan psikologis macam pandangan orang perihal IPK sering banget nih menggoyahkan pikiran. Dimana-mana yang penting penilaian orang terhdap kita, gitu sih bahasanya. Tapi sebenarnya ini menyangkut beraninya kit adalam melawan arus. Misalnya dengan perumpamaan yang dijelaskan oleh Kajur saya, mengenai orang-orang yang tricky..yaaah istilahnya melakukan apapun biar transkrip nilai minimal cuma ada huruf B. Tapi sebenarnya yang penting kan bagaimana proses kita mendapatkan nilai B. Sebenarnya kita paham nggak sih sama materi kuliah yang disampein, sebenarnya kita bisa nggak sih mempertanggungjawabkan apa yang udah kita terima selama ini. Oke memang label penting, tapi akan menjadi bumerang ketika label yang diberikan orang kepada kita tidak seperti kenyataannya. Bisa saja orang yang awalnya ,mencap kita baik akan berbalik menghina kita karena kita mengadakan penipuan terhadap diri kita sendiri dan tentu saja berimbas kepada orang lain.

Senin, 05 Juli 2010

mendewasa part 1



Tanggal 2-4 Juli saya melewati masa yang disebut Musyawarah Kerja Anggota Persma Akademika Universitas Udayana.




Ini adalah saat terpenting dalam hidup saya. Musker membuat pola pikir saya berubah. Meskipun hanya tiga hari, waktu yang singkat. Hal yang bisa kudapat dari musker adalah, bagaimana mengayomi seorang adik, dan bagaimana berpikir realistis.

Saya mengikuti Musker dengan berbagai tekanan, mulai dari rasa bersalah yang sangat besar karena merasa tidak becus menjadi PJS KU/PU. Bagaimana pun, akademika menjadi sensasional ketika Sekum mengundurkan diri 2 hari menjelang Musker, LUCU. Dan malamnya disambung dengan sms seorang adik yang juga menyatakan mundur. Semua bermula dari gembok karatan yang dibuka dengan paksa oleh seorang pimpinan yang terlebih dahulu. Dengar-dengar dari alumni, ini adalah kali pertama seorang PU mengundurkan diri dari jabatannya, dan yang lebih spektakuler 12 hari sebelum Musker berlangsung.